Kamis, 18 September 2025

 A LITTLE MUGGER



Rabu yang manis dengan semburat terik matahari yang silau menemani langkahku hari di pertengahan hari. Heels hitam melangkah tanpa letih, menyusuri trotoar di depan gedung-gedung menjulang sepanjang jalan. Riuh ramai mobil dan transportasi umum serta orang-orang kantoran berpakaian modis bergosip di sepanjang jalan menikmati waktu makan siang mereka. Beberapa orang mendahului langkahku dengan terburu buru, menenteng tas laptop seolah takut barang mereka meleleh disengat mentari. Aku tak masalah dengan itu, derik langkahku cukup santai tetap berirama. Tote bag denim yang menggantung di lengan kananku masih muat untuk beberapa bungkus camilan bersembunyi disana. Bibirku tersenyum memikirkannya, sebentar lagi sampai di minimarket favoritku.

Langkahku berhenti sejenak di persimpangan zebra cross dengan arus lalu lintas yang begitu pelik. Mengulurkan jemari untuk menekan tombol lampu penyebrangan jalan, mataku melayang kosong menatap para bule yang berjemur di seberang jalan menunggu hal yang sama. Kadang aku iri dengan kulit manusia eropa yang sangat putih meski berjemur di siang bolong seperti ini. Aku ingat saat usiaku masih belia dan bekerja sebagai seorang housekeeping, dimana saat para tamu bule usai menggunakan alat fasilitas gym di sepanjang mereka lewat penuh dengan bau-bau tidak sedap. Alhasil aku hanya menggerutu dalam hati sambil melakukan pekerjaanku. Seperti yang kalian tahu, dibalik kesempurnaan orang lain yang kita lihat ternyata mereka juga punya kekurangan dibaliknya.

Lampu hijau tanda untuk menyeberang sudah menyala. Derap langkah berirama menyeberangi perlintasan jalan seakan kita melakukan red karpet dengan penonton sementara. Perjalananku melipir ke salah satu minimarket. Segelas machiato dan polo bread sepertinya sangat nikmat untuk menemaniku di tujuan nanti. Aku memikirkannya sambil memesan camilan tersebut ke kasir. Tanganku merogo totebag denim untuk meraih dompet rajut berwarna biru muda dan mengeluarkan uang tunai dari sana untuk melakukan pembayaran.

Tiba – tiba seorang mahkluk halus memanggilku dari bawah. Dia merintih dengan suara serak dan matanya terlihat memelas. berjalan mengitari kakiku dan tangannya meraih bagian bawah celana cutbray yang kupakai. Aku berusaha menghindarinya karena takut terinjak kaki. Tapi dia tetap mencolek punggung kaki ku seolah meminta perhatian atau.. Hei, ini pemerasan! Melihat matanya yang berbinar memelas, akhirnya aku pasrah juga.

“Sebentar kak, saya tambah 1 bungkus stick tuna dan sebungkus tissu kering ini. Jadi berapa total semua belanjanya?” ucapku pada kasir pria muda yang melayani. Sebuah senyuman tipis di pinggir bibirnya melihatku yang pasrah diperas oleh mahkluk halus itu.

“Mau beli 2 kak? Kebetulan stik tuna kita sedang promo dengan beli 2 gratis 1 bungkus dry food merk terbaru dan promonya terbatas sampai akhir minggu.” Tambahnya lagi.

Mataku melirik si ‘mahkluk halus’ itu, dan sekarang dia mengusap kepalanya di sepatuku. Oh, baiklah, kau menang! Kali ini kau berhasil menghipnotisku, gerutuku dalam hati. Tanganku segera menyelesikan pembayaran itu di kasir dan memasukkan semua belanjaan ke dalam tas denimku. Kecuali 2 bungkus stik tuna yang tadi kubeli, masih kugenggam erat di jemari.

langkahku keluar dari minimarket dan mataku mencari spot yang pas untuk menyerahkan barang “pemerasan” tadi. Di pojokan minimarket, dibawah bayangan payung parasol aku sedikit berjongkok disana. Membuka tepian bungkus stik tuna dan membiarkan si perampok mungil itu menikmatinya.

“dasar anak nakal, belajar dari mana kau melakukan pemerasan ini, huh?” tanyaku padanya.

Meskipun kesal sekaligus kasihan, aku menikmati momen ini. Seperti distraksi kecil yang menenangkan di tengah sibuknya aktifitas kota metro. Jemariku mencoba mengelus kepala si “perampok kecil” dengan tenang. Ia terlihat sangat nyaman dengan makanannya. Matanya yang berbinar menyiratkan perasaan tak bersalah dan tidak ada beban hidup. Tidak seperti kita manusia yang penuh cemas memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi menanti diluar sana. Bola mata berwarna kuning itu sangat indah dan bersinar.

2 stik tuna tadi pun kini sudah habis dilahapnya. Aku bergegas berdiri lalu mengisyaratkan perpisahan. Menyudahi distraksi kecil ini dan melanjutkan perjalananku. Tak jauh dari minimarket, ada sebuah halte disana.  Halte busway kecil dengan kanopi berwarna putih krem di depannya. Bibirku menyeruput seteguk machiato yang ada di tangan kanan dan memantapkan arah langkah ke halte tersebut.

Setelah sepuluh menit duduk manis disana, bus yang kutunggu akhirnya tiba. Aku naik dan menempelkan kartu di dekat kursi pengemudi. Pas sekali, saldo kartu cukup untuk sekali perjalanan. Aku menikmatinya dan memilih tempat duduk di paling belakangb dekat jendela untuk menikmati pemandangan gedung-gedung kota. Ponselku berdering dibalik totebag denim. Jariku meraihnya untuk mengangkat panggilan itu.

“Hai sayang, maaf aku tidak jadi menemanimu sore ini di danau. Aku dapat tugas tambahan dari direktur dan harus meeting dengan klien baru. Sepertinya aku akan selesai jam 7 malam, setelah itu menenangkan pikiran di gym. Aku akan sampai rumah sekitar jam 9 malam. Mungkin kita akan bertemu dilain waktu saja, maaf sekali lagi sayang. Aku sangat merindukanmu.” Ucap suara bass dari seberang sana dengan nada sedikit lelah dan penuh rasa bersalah.

“Baiklah sayang, lekas istirahat sesampainya dirumah, ya. Sepertinya aku akan menikmati sore ini sendiri dan menenangkan pikiran mumpung hari libur. Aku juga sangat merindukanmu, nanti kita atur jadwal bertemu lagi jika senggang.” Balasku dengan intonasi sedikit kecewa. Aku segera mengakhiri percakapan dan menaruh ponselku ke dalam tas kembali. Tentu saja aku sedikit kecewa, tapi tidak apa.

Bus yang kutumpangi berhenti di tujuan. Aku turun dan menghela nafas panjang melepas kekesalanku pada udara. Angin berhembus pelan di sela sela rambutku.

Mataku terpaku sekejap melihat pemandangan di depan. Sebuah taman rumput mengelilingi danau kecil berwarna hijau terang dibawah pantulan sinar matahari sore. Beberapa orang menggelar alas kecil untuk bercengkerama. Aku tak mau kalah mengikuti mereka, mengeluarkan karpet mini dari tasku dan menggelarnya di permukaan rumput. Menikmati pemandangan menenangkan sembari meletakkan machiato dan menikmati roti polo yang tadi kubeli.

Seseorang mengendusku dari belakang. Menyenderkan kepalanya dengan manja di pinggangku.

“Hei, perampok kecil! Bagaimana kau bisa mengikuti sampai disini. Selain merampok, ternyata kau juga pandai menguntit, ya,” ejekku menatapnya. Ia menyahut dengan suara manja dan menggoyangkan ekor panjangnya. Bulunya yang berwarna oranye dan bergaris putih di sepanjang leher hingga perut, membuatku semakin gemas. Untungnya penampilannya tak sekotor seperti kucing jalanan pada umumnya. Ia cukup bersih, sepertinya memang dirawat bersama oleh siapapun manusia yang dijumpainya di perjalanan.

Aku mengusap kepalanya dan ia terduduk diam mengamatiku. Tanganku seperti terhipnotis untuk menggendong tubuhnya yang elastis. Ia menjilati jemriku dengan manja.

“Baiklah, baiklah. Kau memang menang, jadi apakah sekarang kau merayuku untuk menjadi temanmu? Dengar, kita teman. Aku tak sudi menjadi babu seperti orang-orang diluar sana. Jangan melewati batas itu, ya.” Tegasku menggoyang-goyangkan tubuhnya kedepan dan kebelakang. Ia mengeong seperti mengiyakan perjanjian tak tertulis yang baru saja kutawarkan.

Aku meletakkannya diatas kakiku yang duduk dengan posisi bersila. Ia menyenderkan kepala dan merebahkan tubuh lembutnya disana. Ia terlihat sangat nyaman disana sambil melihat kearah danau. Kami berdua benar-benar berteman sekarang. Menikmati indahnya danau dan pemandangan yang menenteramkan hati.

“Terimakasih sudah menemaniku sore ini, kawan baru. Jadi, apa kau juga tahu aku akan sendirian disini? Kalau memang betul, berarti kau cenayang! Sebentar, aku harus memanggilmu apa? Kita bahkan belum berkenalan.” Celotehku padanya dengan senyuman.

 Souce in Pinterest.

 

Minggu, 20 April 2025

Heal

 



"There are many things you have to release to make space for what's next. Remember, not everything is meant to stay with you on your journey. Sometimes, the greatest act of love is letting go, allowing everyone to pursue their own path to happiness. Be grateful for those who've crossed your path, even briefly, as they may have offered guidance or strength that propelled you forward. People will come and go, that's the nature of life, so keep moving forward with purpose. Your potential is boundless – strive to become stronger, embrace a youthful spirit, cultivate a healthy body, and blossom into a more beautiful and mature version of yourself, capable of embracing even more positive energy vibes!"

Senin, 20 Januari 2025

Kita

 

“Sejauh apapun kita berlari, distraksi tidak bisa menghapus momentum

Sebanyak apapun topeng yang kita kenakan, tidak bisa mengubah karakter seseorang

Cukup pahit, ketika harapan tidak sesuai ekspetasi.

Dan alkisah tentang menunggu.. sebenarnya cuma masalah waktu

Kamu

Berlari dikejar emosi dan waktu

Menulis skenario hidup seperti fatamorgana sosial media

Mencoba menggapai bulan dengan sebatang galah

Dan alkisah tentang menunggu.. sebenarnya cuma masalah waktu

Aku

Merajut momen yang hilang

Mencari damai dari sibuknya ibukota

Mencoba mengenal kita, lagi-,
Dan alkisah tentang kita.. sebenarnya saling menunggu”

 

Titip sebuah rindu, untuk dirimu yang mulai dewasa

 

 

 

    Anyway, it’s not a poetry hihi. Sebuah tulisan untuk diri sendiri. Ucapan perdebatan antara inner self, let me explain them. “Aku” adalah diri sendiri, dan “Kamu” merupakan out of self ketika kita mencoba membangun hubungan sosial. Menurutku, mayoritas orang bahkan tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat berada di lingkungan yang berbeda. Berbeda dalam arti perbedaan pola pikir, pendapat, lingkungan kerja, life style, ekonomi, dan lain sebagainya. Maka “Kamu” representasi dari rias wajah yang ditampilkan untuk perbedaan kulture tersebut. Terdengar lucu, kenyataannya pendewasaan memang butuh hal-hal seperti demikian. Sebenarnya hal itu wajar, karena hidup tidak luput dari segala drama dan kisahnya.

 

    Mari kita bahas “Aku” representasi dari diri sendiri. Tujuan dari setiap kehidupan adalah menuju damai. Tapi dunia tidak membiarkanmu menikmatinya dengan dengan semudah itu. Kita terbentuk oleh banyak benturan fase proses kehidupan, tanpa sadar meredam ego untuk mengutamakan hal lain yang disebut prioritas. Tentu saja keluarga, pasangan, teman dan lain sebagainya. Tapi pernahkah kamu merasa, dirimu juga punya wujudnya sendiri. Hal-hal yang seharusnya berjalan saja mengikuti arus, seringkali berperang dengan diri sendiri, dengan ego dan mood yang tidak stabil. Terutama kaum hawa. Yah, mengakulah hei kaum hawa, seringkali mood mu yang seperti roller coaster itu merepotkan sekali. But, it’s okay to be a woman growth up to a stronger!! Even generally not woman only, beberapa gentleman pun merasakan hal yang sama. Okey, saya tidak mencoba mengkotakkan gender, ya..haha. “Aku” adalah hasil proses dewasa itu. Yang mana semakin kita dewasa, hanya ingin ketenangan jiwa dan kestabilan materi. Pasti lelah sekali, ya.


02 February 2024

Shadow Pier


Oh, the epochs etched, a thousand words untold,

A helmsman adrift, his captain's story cold.

Upon life's tempest, his heart was tossed and torn,

To turn or sail on, a soul forever worn.

Love's weight he bore, a lonely, longing soul,

A thousand passions, deep within his soul.

In jars of yearning, he'd securely keep,

Each thunderous emotion, steep and deep.

His courage, frail, in stormy seas would veil,

Convinced he'd perish, lost and desolate.

His ego fed on doubts, a self-made blight,

Unmourned and lonely, fading into night.

Yet Heaven watched, a heart so frail and small,

Translated truth into a cosmic gale.

Time, a gentle hand, would quell the strife,

And mend the broken pieces of his life.


Tuesday, 21 January 2025

Selasa, 19 Januari 2021

Muak

Disana berteriak riang

Dalam diam mencoba recaka

Detik berlari dengan romantisnya

Melenyapkan sendu berlalu

Sedikit merintik, terisak sebentar

Melambai raut ceria, "Aku ingin usai dini"

Katamu dalam mendung

Bertengadahlah, langit masih begitu tinggi!


Telapak kakinya khusyuk cumbana

Mala asmaraloka pernah beberapa kali bergetar

Tapi hatimu tak pernah gentar

Seperti doyan karam

Tak apa, suar berahi masih banyak

Aku tunggu antrian saja

Tambatan hati sudah diatur Ilahi, kilahmu lagi

Kuharap, bekas sayatan itu lekas sembuh bung

Ya, kau butuh recaka kembali!


Ah, Ina!!

Aku sungguh sudah letih

Andai pohon emas benar-benar ada

Bukan di dongeng saja!

Pastilah, tangan dan kakiku tak sekasar ini

Demi kau! Tak apalah.

Aku hanya perlu menjaga agar sumbu mu tetap menyala

Meski tubuhku harus dicumbu rucita metropolitan

Atau dipeluk mesra polutan

Sayang.. kau adalah alasan mengapa recakaku masih bertahan, sejak sembilan bulan itu berlalu


Huh, recaka begitu tercekat

Menelan ludah pun seperti kerikil

Organ tubuhmu ikut berdebar-debar

Semoga tidak mengecewakan, dansa desahmu

Raut genggaman bersenggama dan pelukan hangat menyanyikan ucapan selamat

Ah, begitu indah

Realitanya, mari memanjat tebing yang terjal

Jika kau jatuh, merenunglah

Walau lagi lagi mendapat "coba lagi" seperti di kertas undian

Mari recaka sejenak..


Senja kopi pun mulai bosan

Muak dengan tingkahmu

Selalu berjalan terbirit, padahal para lobus asyik menikmati senandung

Tapi Talamusmu begitu egois!!

Kau tahu benang kusut?

Buruknya, kertas yang usai diremuk?

Yah, seperti itulah kira-kira dirimu sekarang

Beruntung cermin dirumahmu begitu sabar

Siulan jarum jam sialan itu sudah menguasai ragamu

Dan kerutan di kening mulai berbaris

Tak apalah, katamu lagi



Tik, tok, tik, tok..

Tik, tok, tik, tok..

Hening..


Tarik dalam-dalam,

Hembuskan perlahan…

Tarik dalam-dalam,

Hembuskan perlahan…

Tarik dalam-dalam,

Hembuskan perlahan…

Jantungmu berdetak romantis

Hei, recakamu sudah kembali?


Picture source : wordofthenations.wordpress.com


Selasa, 19 Januari 2021

Selasa, 18 Juni 2019

Sajak Puisi


Aku, si Bibit dalam Mimpi ?


Aku, bukan hanya si cerdas, pintar, berprestasi
Aku, tak hanya sekadar teori inovasi
Aku, juga bukan kelinci percobaan para si menteri
Aku, bahkan bukan Tuhan Edukasi

Eh, aku ?
Aku bukan anak dari rahim Ibu Kartini
Aku cuma janin hasil intuisi
Aku hanya kisah nyata imajinasi
Imajinasi yang menyongsong negeri ini
Ditengah peliknya arus globalisasi
Aku bersandar dibawah angkuhnya pilar-pilar  teknologi

Aku, seonggok bibit dalam mimpi
Akulah mimpi yang subur bila disirami
Aku hanya sepercik dari teori Mahatnam Gandhi
Aku yang dirawat sepenuh hati
Oleh Raden Mas Soewardi
Aku yang katanya kelak
Bekal saat jembatan dititi

Aku bisa dimanapun bersemi
Aku bagaikan sebuah rasi
Aku lahir dari setitik aksara di bumi
Aku tak sebatas dunia ilusi
Aku bak sebatang rekah teratai, tapi
Aku bisa membawamu menelanjangi galaksi

Aku takkan pernah mati
Aku tak sudi sekadar jadi kenangan pedagogi
Aku nyata jelas bila dibirahi
Aku si titik murni
Tanamlah dalam bibit generasi
Agar luhur tetap pekerti
Tumbuh dalam raga ibu pertiwi



25 November 2018
~Selamat Hari Guru~

Karya ini masuk dalam salah satu nominasi juara ke-3 lomba FLS2N se-Jakarta Timur pada tahun 2018 yang diselenggarakan di SMANU M.H.Thamrin dalam acara Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia

Coretan Cerpen

                              Rindunya Ara



"Happy birthday to me, happy birthday to me, happy birthday, happy birthday, happy birthday myself!"

   Begitulah, dari tahun ke tahun, upacara sakral untuk mengenang hari pertamaku bebas dari rahim ibuku, sembari mencoba berkata-kata dalam tangisan kecil. Mendengar suara adzan yang dikumandangkan ayah ditelingaku, melihat senyum ibu yang begitu tulus, lenyap pula tangisan tanpa arti itu.

    Dua puluh tujuh tahun, itu adalah waktu yang sangat singkat untuk mengakhiri senyum-senyum bahagia itu. Jujur, aku masih sangat merindukan Tiramisu bertabur lilin berbentuk angka diatasnya, buatan ibu. Dan doa serta pelukan hangat dari ayah juga tepuk tangan riuh menyambutku.

  Kini tumpukan kertas menggunung yang menyambut hari upacara sakral itu. Tak ada tepuk tangan, hanya suara air mendidih siap untuk menghangatkan secangkir kopi hitam pekat disamping laptopku dan nyanyian notifikasi tugas deadline yang siap mengejar. Rutinitas yang begitu penat. 
Tiba-tiba handphoneku berdering. Terlihat  sebaris nama disana. Ibu.

"Hai Ara sayang, selamat ulang tahun, yah. Doa ibu dan ayah selalu menyertaimu. Sekali-sekali pulanglah ke rumah, akan ibu buatkan Tiramisu istimewa untuk gadis ibu yang sudah dewasa ini."
Perlahan, aku tak bisa membendung ingusku lagi usai acara kicauan nasehat beliau.

   Segera kubuka pintu kulkas dan mencari sisa sepotong cupcake yang tak habis kumakan semalam. Kutancapkan sebatang lilin bekas mati lampu kemarin diatasnya, dan kunyalakan. Mulutku mulai melantunkan sebaris lagu mantra sakral ulang tahun.

  Setelah kulahap habis cupcake itu, aku bergegas memakai seragam kerjaku. Kututup laptop yang sedari tadi menganggur di meja kerjaku, kumasukkan dalam tempatnya. 

BUGGHHH!!

  Tak sengaja tanganku menyenggol sesuatu hingga terjatuh. Segera kulihat ke bawah meja, tanganku menjulur mengambil benda itu.

Aish, album usang ini. Album cokelat dihiasi sebuah bunga rajut kecil dari ibu di pojok kanan atasnya. Ya, itu hadiah dari ibu sebelum aku pergi merantau ke ibukota usai menghadiri acara wisudaku kala itu. Masih terngiang jelas beliau bilang, keluarga adalah harta segalanya. Apalagi sejak muncul iklan yang liriknya kira-kira seperti ini :
"Harta yang paling berharga, adalah keluarga...(iklan tepung Rosb**nd)"
Aish, semakin rajin dia menyanyikanku sepotong lirik itu meski tak sampai akhir, usai acara nasehatnya. 

  Sekarang dia minta dikenang rupanya. Aku terduduk kembali diatas tempat tidurku.

Kubuka perlahan. 

  Tertera jelas di halaman depan, ukiran senyum keluarga kami. Mulai dari foto ibu yang sedang menggendongku, hingga ayah yang menemaniku berenang, lalu kami bersama-sama memandikan Kori, anjing  kesayangan peliharaanku di halaman belakang rumah, lalu wajahku yang sedang gugup saat pertama kali masuk SMP, waktu itu diam-diam diambil ayah, ah, dan masih banyak lagi. Itu sudah lama sekali. Teruntuk Kori, bulldog kecil berwarna pirang kesayanganku juga sudah pergi meninggalkan kami sehari sebelum hari ulang tahunku yang kelima belas. Miss you Kori !!

Keluarga, membuatku rindu segalanya. 
   
   Ah, andai waktu bisa diperlambat atau diputar kembali ke masa-masa itu. Sungguh, aku ingin kembali !

Tinggal lembar terakhir. Disana, tangisku begitu menyesakkan sesekali sesegukkan. Kuusap foto ayah dan ibu yang sedang memelukku saat hari wisuda kuliah sembari memakai toga. Dan..
Hari itulah terakhir ayah bersama kami. Sisanya foto-foto mengenang acara pemakaman beliau.

  Sudah berapa tahun aku meninggalkannya sendirian disana? Bahkan tanpa ayah lagi disampingnya. Si wanita renta itu..begitu hebat. 

Tanganku bergerak gesit merogoh kantong celanaku dan menemukan benda persegi  panjang berlayar sentuh itu. Kuketikkan sebaris nomor yang tak asing disana.

Telepon tersambung..

"Halo bu, aku pulang!"



 A LITTLE MUGGER Rabu yang manis dengan semburat terik matahari yang silau menemani langkahku hari di pertengahan hari. Heels hitam melangka...