“Sejauh apapun kita berlari, distraksi tidak bisa menghapus
momentum
Sebanyak apapun topeng yang kita kenakan, tidak bisa mengubah
karakter seseorang
Cukup pahit, ketika harapan tidak sesuai ekspetasi.
Dan alkisah tentang menunggu.. sebenarnya cuma masalah waktu
Kamu
Berlari dikejar emosi dan waktu
Menulis skenario hidup seperti fatamorgana sosial media
Mencoba menggapai bulan dengan sebatang galah
Dan alkisah tentang menunggu.. sebenarnya cuma masalah waktu
Aku
Merajut momen yang hilang
Mencari damai dari sibuknya ibukota
Mencoba mengenal kita, lagi-,
Dan alkisah tentang kita.. sebenarnya saling menunggu”
Titip sebuah rindu, untuk dirimu yang mulai dewasa
Anyway, it’s not a poetry hihi.
Sebuah tulisan untuk diri sendiri. Ucapan perdebatan antara inner self, let me
explain them. “Aku” adalah diri sendiri, dan “Kamu” merupakan out of self
ketika kita mencoba membangun hubungan sosial. Menurutku, mayoritas orang bahkan
tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat berada di lingkungan yang berbeda.
Berbeda dalam arti perbedaan pola pikir, pendapat, lingkungan kerja, life
style, ekonomi, dan lain sebagainya. Maka “Kamu” representasi dari rias wajah
yang ditampilkan untuk perbedaan kulture tersebut. Terdengar lucu, kenyataannya
pendewasaan memang butuh hal-hal seperti demikian. Sebenarnya hal itu wajar, karena
hidup tidak luput dari segala drama dan kisahnya.
Mari kita bahas “Aku”
representasi dari diri sendiri. Tujuan dari setiap kehidupan adalah menuju
damai. Tapi dunia tidak membiarkanmu menikmatinya dengan dengan semudah itu. Kita
terbentuk oleh banyak benturan fase proses kehidupan, tanpa sadar meredam ego
untuk mengutamakan hal lain yang disebut prioritas. Tentu saja keluarga,
pasangan, teman dan lain sebagainya. Tapi pernahkah kamu merasa, dirimu juga
punya wujudnya sendiri. Hal-hal yang seharusnya berjalan saja mengikuti arus, seringkali
berperang dengan diri sendiri, dengan ego dan mood yang tidak stabil. Terutama
kaum hawa. Yah, mengakulah hei kaum hawa, seringkali mood mu yang seperti
roller coaster itu merepotkan sekali. But, it’s okay to be a woman growth up to
a stronger!! Even generally not woman only, beberapa gentleman pun merasakan
hal yang sama. Okey, saya tidak mencoba mengkotakkan gender, ya..haha. “Aku” adalah
hasil proses dewasa itu. Yang mana semakin kita dewasa, hanya ingin ketenangan jiwa
dan kestabilan materi. Pasti lelah sekali, ya.
02 February 2024
