Disana berteriak riang
Dalam diam mencoba recaka
Detik berlari dengan romantisnya
Melenyapkan sendu berlalu
Sedikit merintik, terisak sebentar
Melambai raut ceria, "Aku ingin usai dini"
Katamu dalam mendung
Bertengadahlah, langit masih begitu tinggi!
Telapak kakinya khusyuk cumbana
Mala asmaraloka pernah beberapa kali bergetar
Tapi hatimu tak pernah gentar
Seperti doyan karam
Tak apa, suar berahi masih banyak
Aku tunggu antrian saja
Tambatan hati sudah diatur Ilahi, kilahmu lagi
Kuharap, bekas sayatan itu lekas sembuh bung
Ya, kau butuh recaka kembali!
Ah, Ina!!
Aku sungguh sudah letih
Andai pohon emas benar-benar ada
Bukan di dongeng saja!
Pastilah, tangan dan kakiku tak sekasar ini
Demi kau! Tak apalah.
Aku hanya perlu menjaga agar sumbu mu tetap menyala
Meski tubuhku harus dicumbu rucita metropolitan
Atau dipeluk mesra polutan
Sayang.. kau adalah alasan mengapa recakaku masih bertahan, sejak sembilan bulan itu berlalu
Huh, recaka begitu tercekat
Menelan ludah pun seperti kerikil
Organ tubuhmu ikut berdebar-debar
Semoga tidak mengecewakan, dansa desahmu
Raut genggaman bersenggama dan pelukan hangat menyanyikan ucapan selamat
Ah, begitu indah
Realitanya, mari memanjat tebing yang terjal
Jika kau jatuh, merenunglah
Walau lagi lagi mendapat "coba lagi" seperti di kertas undian
Mari recaka sejenak..
Senja kopi pun mulai bosan
Muak dengan tingkahmu
Selalu berjalan terbirit, padahal para lobus asyik menikmati senandung
Tapi Talamusmu begitu egois!!
Kau tahu benang kusut?
Buruknya, kertas yang usai diremuk?
Yah, seperti itulah kira-kira dirimu sekarang
Beruntung cermin dirumahmu begitu sabar
Siulan jarum jam sialan itu sudah menguasai ragamu
Dan kerutan di kening mulai berbaris
Tak apalah, katamu lagi
Tik, tok, tik, tok..
Tik, tok, tik, tok..
Hening..
Tarik dalam-dalam,
Hembuskan perlahan…
Tarik dalam-dalam,
Hembuskan perlahan…
Tarik dalam-dalam,
Hembuskan perlahan…
Jantungmu berdetak romantis
Hei, recakamu sudah kembali?
