A LITTLE MUGGER
Rabu yang manis dengan semburat terik matahari yang silau
menemani langkahku hari di pertengahan hari. Heels hitam melangkah tanpa letih,
menyusuri trotoar di depan gedung-gedung menjulang sepanjang jalan. Riuh ramai mobil
dan transportasi umum serta orang-orang kantoran berpakaian modis bergosip di
sepanjang jalan menikmati waktu makan siang mereka. Beberapa orang mendahului
langkahku dengan terburu buru, menenteng tas laptop seolah takut barang mereka
meleleh disengat mentari. Aku tak masalah dengan itu, derik langkahku cukup
santai tetap berirama. Tote bag denim yang menggantung di lengan kananku masih
muat untuk beberapa bungkus camilan bersembunyi disana. Bibirku tersenyum
memikirkannya, sebentar lagi sampai di minimarket favoritku.
Langkahku berhenti sejenak di persimpangan zebra cross
dengan arus lalu lintas yang begitu pelik. Mengulurkan jemari untuk menekan
tombol lampu penyebrangan jalan, mataku melayang kosong menatap para bule yang
berjemur di seberang jalan menunggu hal yang sama. Kadang aku iri dengan kulit
manusia eropa yang sangat putih meski berjemur di siang bolong seperti ini. Aku
ingat saat usiaku masih belia dan bekerja sebagai seorang housekeeping, dimana
saat para tamu bule usai menggunakan alat fasilitas gym di sepanjang mereka
lewat penuh dengan bau-bau tidak sedap. Alhasil aku hanya menggerutu dalam hati
sambil melakukan pekerjaanku. Seperti yang kalian tahu, dibalik kesempurnaan
orang lain yang kita lihat ternyata mereka juga punya kekurangan dibaliknya.
Lampu hijau tanda untuk menyeberang sudah menyala. Derap langkah
berirama menyeberangi perlintasan jalan seakan kita melakukan red karpet dengan
penonton sementara. Perjalananku melipir ke salah satu minimarket. Segelas machiato
dan polo bread sepertinya sangat nikmat untuk menemaniku di tujuan nanti. Aku memikirkannya
sambil memesan camilan tersebut ke kasir. Tanganku merogo totebag denim untuk
meraih dompet rajut berwarna biru muda dan mengeluarkan uang tunai dari sana
untuk melakukan pembayaran.
Tiba – tiba seorang mahkluk halus memanggilku dari bawah. Dia
merintih dengan suara serak dan matanya terlihat memelas. berjalan mengitari
kakiku dan tangannya meraih bagian bawah celana cutbray yang kupakai. Aku berusaha
menghindarinya karena takut terinjak kaki. Tapi dia tetap mencolek punggung
kaki ku seolah meminta perhatian atau.. Hei, ini pemerasan! Melihat matanya
yang berbinar memelas, akhirnya aku pasrah juga.
“Sebentar kak, saya tambah 1 bungkus stick tuna dan
sebungkus tissu kering ini. Jadi berapa total semua belanjanya?” ucapku pada
kasir pria muda yang melayani. Sebuah senyuman tipis di pinggir bibirnya melihatku
yang pasrah diperas oleh mahkluk halus itu.
“Mau beli 2 kak? Kebetulan stik tuna kita sedang promo
dengan beli 2 gratis 1 bungkus dry food merk terbaru dan promonya terbatas
sampai akhir minggu.” Tambahnya lagi.
Mataku melirik si ‘mahkluk halus’ itu, dan sekarang dia
mengusap kepalanya di sepatuku. Oh, baiklah, kau menang! Kali ini kau berhasil
menghipnotisku, gerutuku dalam hati. Tanganku segera menyelesikan pembayaran
itu di kasir dan memasukkan semua belanjaan ke dalam tas denimku. Kecuali 2
bungkus stik tuna yang tadi kubeli, masih kugenggam erat di jemari.
langkahku keluar dari minimarket dan mataku mencari spot
yang pas untuk menyerahkan barang “pemerasan” tadi. Di pojokan minimarket, dibawah
bayangan payung parasol aku sedikit berjongkok disana. Membuka tepian bungkus
stik tuna dan membiarkan si perampok mungil itu menikmatinya.
“dasar anak nakal, belajar dari mana kau melakukan pemerasan
ini, huh?” tanyaku padanya.
Meskipun kesal sekaligus kasihan, aku menikmati momen ini. Seperti
distraksi kecil yang menenangkan di tengah sibuknya aktifitas kota metro. Jemariku
mencoba mengelus kepala si “perampok kecil” dengan tenang. Ia terlihat sangat
nyaman dengan makanannya. Matanya yang berbinar menyiratkan perasaan tak
bersalah dan tidak ada beban hidup. Tidak seperti kita manusia yang penuh cemas
memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi menanti diluar
sana. Bola mata berwarna kuning itu sangat indah dan bersinar.
2 stik tuna tadi pun kini sudah habis dilahapnya. Aku bergegas
berdiri lalu mengisyaratkan perpisahan. Menyudahi distraksi kecil ini dan
melanjutkan perjalananku. Tak jauh dari minimarket, ada sebuah halte
disana. Halte busway kecil dengan kanopi
berwarna putih krem di depannya. Bibirku menyeruput seteguk machiato yang ada
di tangan kanan dan memantapkan arah langkah ke halte tersebut.
Setelah sepuluh menit duduk manis disana, bus yang kutunggu
akhirnya tiba. Aku naik dan menempelkan kartu di dekat kursi pengemudi. Pas sekali,
saldo kartu cukup untuk sekali perjalanan. Aku menikmatinya dan memilih tempat
duduk di paling belakangb dekat jendela untuk menikmati pemandangan gedung-gedung
kota. Ponselku berdering dibalik totebag denim. Jariku meraihnya untuk mengangkat
panggilan itu.
“Hai sayang, maaf aku tidak jadi menemanimu sore ini di
danau. Aku dapat tugas tambahan dari direktur dan harus meeting dengan klien
baru. Sepertinya aku akan selesai jam 7 malam, setelah itu menenangkan pikiran
di gym. Aku akan sampai rumah sekitar jam 9 malam. Mungkin kita akan bertemu
dilain waktu saja, maaf sekali lagi sayang. Aku sangat merindukanmu.” Ucap suara
bass dari seberang sana dengan nada sedikit lelah dan penuh rasa bersalah.
“Baiklah sayang, lekas istirahat sesampainya dirumah, ya. Sepertinya
aku akan menikmati sore ini sendiri dan menenangkan pikiran mumpung hari libur.
Aku juga sangat merindukanmu, nanti kita atur jadwal bertemu lagi jika senggang.”
Balasku dengan intonasi sedikit kecewa. Aku segera mengakhiri percakapan dan
menaruh ponselku ke dalam tas kembali. Tentu saja aku sedikit kecewa, tapi
tidak apa.
Bus yang kutumpangi berhenti di tujuan. Aku turun dan
menghela nafas panjang melepas kekesalanku pada udara. Angin berhembus pelan di
sela sela rambutku.
Mataku terpaku sekejap melihat pemandangan di depan. Sebuah taman
rumput mengelilingi danau kecil berwarna hijau terang dibawah pantulan sinar matahari
sore. Beberapa orang menggelar alas kecil untuk bercengkerama. Aku tak mau
kalah mengikuti mereka, mengeluarkan karpet mini dari tasku dan menggelarnya di
permukaan rumput. Menikmati pemandangan menenangkan sembari meletakkan machiato
dan menikmati roti polo yang tadi kubeli.
Seseorang mengendusku dari belakang. Menyenderkan kepalanya
dengan manja di pinggangku.
“Hei, perampok kecil! Bagaimana kau bisa mengikuti sampai
disini. Selain merampok, ternyata kau juga pandai menguntit, ya,” ejekku
menatapnya. Ia menyahut dengan suara manja dan menggoyangkan ekor panjangnya. Bulunya
yang berwarna oranye dan bergaris putih di sepanjang leher hingga perut,
membuatku semakin gemas. Untungnya penampilannya tak sekotor seperti kucing
jalanan pada umumnya. Ia cukup bersih, sepertinya memang dirawat bersama oleh
siapapun manusia yang dijumpainya di perjalanan.
Aku mengusap kepalanya dan ia terduduk diam mengamatiku. Tanganku
seperti terhipnotis untuk menggendong tubuhnya yang elastis. Ia menjilati
jemriku dengan manja.
“Baiklah, baiklah. Kau memang menang, jadi apakah sekarang
kau merayuku untuk menjadi temanmu? Dengar, kita teman. Aku tak sudi menjadi
babu seperti orang-orang diluar sana. Jangan melewati batas itu, ya.” Tegasku menggoyang-goyangkan
tubuhnya kedepan dan kebelakang. Ia mengeong seperti mengiyakan perjanjian tak
tertulis yang baru saja kutawarkan.
Aku meletakkannya diatas kakiku yang duduk dengan posisi
bersila. Ia menyenderkan kepala dan merebahkan tubuh lembutnya disana. Ia terlihat
sangat nyaman disana sambil melihat kearah danau. Kami berdua benar-benar
berteman sekarang. Menikmati indahnya danau dan pemandangan yang menenteramkan
hati.
“Terimakasih sudah menemaniku sore ini, kawan baru. Jadi,
apa kau juga tahu aku akan sendirian disini? Kalau memang betul, berarti kau
cenayang! Sebentar, aku harus memanggilmu apa? Kita bahkan belum berkenalan.” Celotehku
padanya dengan senyuman.