Rindunya Ara
"Happy birthday to me, happy birthday to me, happy birthday, happy birthday, happy birthday myself!"
Begitulah, dari tahun ke tahun, upacara sakral untuk mengenang hari pertamaku bebas dari rahim ibuku, sembari mencoba berkata-kata dalam tangisan kecil. Mendengar suara adzan yang dikumandangkan ayah ditelingaku, melihat senyum ibu yang begitu tulus, lenyap pula tangisan tanpa arti itu.
Dua puluh tujuh tahun, itu adalah waktu yang sangat singkat untuk mengakhiri senyum-senyum bahagia itu. Jujur, aku masih sangat merindukan Tiramisu bertabur lilin berbentuk angka diatasnya, buatan ibu. Dan doa serta pelukan hangat dari ayah juga tepuk tangan riuh menyambutku.
Kini tumpukan kertas menggunung yang menyambut hari upacara sakral itu. Tak ada tepuk tangan, hanya suara air mendidih siap untuk menghangatkan secangkir kopi hitam pekat disamping laptopku dan nyanyian notifikasi tugas deadline yang siap mengejar. Rutinitas yang begitu penat.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Terlihat sebaris nama disana. Ibu.
"Hai Ara sayang, selamat ulang tahun, yah. Doa ibu dan ayah selalu menyertaimu. Sekali-sekali pulanglah ke rumah, akan ibu buatkan Tiramisu istimewa untuk gadis ibu yang sudah dewasa ini."
Perlahan, aku tak bisa membendung ingusku lagi usai acara kicauan nasehat beliau.
Segera kubuka pintu kulkas dan mencari sisa sepotong cupcake yang tak habis kumakan semalam. Kutancapkan sebatang lilin bekas mati lampu kemarin diatasnya, dan kunyalakan. Mulutku mulai melantunkan sebaris lagu mantra sakral ulang tahun.
Setelah kulahap habis cupcake itu, aku bergegas memakai seragam kerjaku. Kututup laptop yang sedari tadi menganggur di meja kerjaku, kumasukkan dalam tempatnya.
BUGGHHH!!
Tak sengaja tanganku menyenggol sesuatu hingga terjatuh. Segera kulihat ke bawah meja, tanganku menjulur mengambil benda itu.
Aish, album usang ini. Album cokelat dihiasi sebuah bunga rajut kecil dari ibu di pojok kanan atasnya. Ya, itu hadiah dari ibu sebelum aku pergi merantau ke ibukota usai menghadiri acara wisudaku kala itu. Masih terngiang jelas beliau bilang, keluarga adalah harta segalanya. Apalagi sejak muncul iklan yang liriknya kira-kira seperti ini :
"Harta yang paling berharga, adalah keluarga...(iklan tepung Rosb**nd)"
Aish, semakin rajin dia menyanyikanku sepotong lirik itu meski tak sampai akhir, usai acara nasehatnya.
Sekarang dia minta dikenang rupanya. Aku terduduk kembali diatas tempat tidurku.
Kubuka perlahan.
Tertera jelas di halaman depan, ukiran senyum keluarga kami. Mulai dari foto ibu yang sedang menggendongku, hingga ayah yang menemaniku berenang, lalu kami bersama-sama memandikan Kori, anjing kesayangan peliharaanku di halaman belakang rumah, lalu wajahku yang sedang gugup saat pertama kali masuk SMP, waktu itu diam-diam diambil ayah, ah, dan masih banyak lagi. Itu sudah lama sekali. Teruntuk Kori, bulldog kecil berwarna pirang kesayanganku juga sudah pergi meninggalkan kami sehari sebelum hari ulang tahunku yang kelima belas. Miss you Kori !!
Keluarga, membuatku rindu segalanya.
Ah, andai waktu bisa diperlambat atau diputar kembali ke masa-masa itu. Sungguh, aku ingin kembali !
Tinggal lembar terakhir. Disana, tangisku begitu menyesakkan sesekali sesegukkan. Kuusap foto ayah dan ibu yang sedang memelukku saat hari wisuda kuliah sembari memakai toga. Dan..
Hari itulah terakhir ayah bersama kami. Sisanya foto-foto mengenang acara pemakaman beliau.
Sudah berapa tahun aku meninggalkannya sendirian disana? Bahkan tanpa ayah lagi disampingnya. Si wanita renta itu..begitu hebat.
Tanganku bergerak gesit merogoh kantong celanaku dan menemukan benda persegi panjang berlayar sentuh itu. Kuketikkan sebaris nomor yang tak asing disana.
Telepon tersambung..
"Halo bu, aku pulang!"